Nama : Indri Fajriyani
NIM : 0142S1B014001
Prodi : PBS Indonesia
Asal-usul, Sejarah,
dan Perkembangan Bahasa
Sunda
Sejarah
Penggunaan Bahasa Sunda
Bahasa Sunda merupakan bahasa yang
diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam komunikasi kehidupan mereka.
Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang
merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti itu di temukan di Kawali Ciamis,
dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno).
Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan
Prabu Niskala Wastukancana(1397-1475).
Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Dapat diperkirakan bahwa Bahasa Sunda
telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu.
Mungkin Bahasa Kw’un Lun yang disebut
oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara
sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda
(kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.
Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno)
secara tertulis, banyak dijumpai dalam
bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang
berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 18. Karena lebih mudah cara menulisnya, naskah lebih panjang dari pada prasasti,
sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanyapun lebih
jelas.
Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada
naskah adalah sebagai berikut:
(1)
Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian
(1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba
ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita
tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan
sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat
kita tidak memiliki apa-apa!)
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).
Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada
masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta
dari India.
Setelah itu masyarakat Sunda mengenal,
lalu menganut Agama Islam, lalu menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan
Banten sejak akhir abad ke-16. Pada masa
itu muncul karya Carita Parahiyangan. Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang
berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja
(istinja). Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke
dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Seiring dengan masuknya Agama Islam
kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab
kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya
tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.
Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi,
dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada
perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga
dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin
pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan
Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu
pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam
Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.
Pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan
berbahasa masyarakat Sunda tampak sejak
akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram
memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan
di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan
bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap
digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda.
Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa
tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan
karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon. Konon kabar sejak abad 17 (Jautuhnya
Pajajaran), di tatar Sunda menggunakan naskah-naskah berbahasa dan beraksara
Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon.
Selain itu, tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan
kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang
disebut Unggah Ungguh Basa. Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa
terjadilah stratifikasi sosial secara nyata.
Kemudian pada Jaman Amangkurat I
wilayah kekuasaan sedikit-demi sedikit
diserahkan kepada Belanda.
Bahasa Sunda mulai banyak digunakan
kembali pada abad ke-19. Karena Belanda pun sebelumnya menganggap Urang Sunda
hanya sebagai orang Jawa gunung yang hidup didaerah barat pulau Jawa. Raffles,
Gubernur jendral Inggris di Jawa mendorong untuk melakukan penelitian tentang
sejarah dan kebudayaan lokal. Dalam bukunya,
The History of Java, Raffles menyatakan bahasa Sunda itu adalah sebagai
varian dari bahasa Jawa, bahkan ada juga yang menyebut bahasa Sunda sebagai
bahasa Jawa Gunung dibagian barat.
Pada masa selanjutnya para cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini sangat dibutuhkan, paling tidak untuk mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri.
Pada masa selanjutnya para cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini sangat dibutuhkan, paling tidak untuk mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri.
Belanda tentunya memiliki tujuan, karena
masing-masing wilayah memiliki potensi alam yang berbeda. Seperti daerah
Priangan sangat penting dari segi ekonomi, karena sebagai penghasil kopi. Belanda
mendorong para elite lokal untuk menjalankan roda administrasinya sendiri,
serta mendorong untuk belajar pendidikan formal. Dari sini para Bumiputra
menyadari, bahwa memang ada perbedaan bahasa dan budaya diantara mereka.
Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, sebagai berikut :
* Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ; banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.
Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda adalah etnis tersendiri.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde.
Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, sebagai berikut :
* Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ; banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.
Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda adalah etnis tersendiri.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde.
Kemudian Roorda membuat pernyataan :
Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ; bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.
Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ; bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.
Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda
mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang
Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk
pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara
Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh
pemerintah. Pada awalnya kata BUPATI
misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan
Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda.
Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti
sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.
Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah
dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa
Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan
sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak
tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda,
bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa
Melayu.
Sejak tahun 1950-an pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur dengan Bahasa Indonesia terutama oleh
orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung.
Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian
Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu,
tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan
keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya
dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari
keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda
kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan "sehari-harinya.
Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda
terus berlanjut.
(Sumber
; Ensiklopedia Sunda ; alam, budaya dan adat-istiadat, dan sumber-sumber
internet dengan perubahan
dan penyesuaian)
Dari cerita
diatas terlihat bahwa
bahasa Sunda merupakan
bahasa yang dinamis,
tidak statis. Bahasa
Sunda mendapat pegaruh
dari berbagai macam bahasa
seperti India, Jawa, Arab,
Belanda, Melayu. Pengaruh dari
bahasa arab yaitu
penyerapan kosakata dimulai
dengan masuknya pengaruh
lslam ke Sunda,
yang kemudian berkembang
dengan kerajaan Cirebon
dan Banten.
Pengaruh bahasa
Jawa pada bahasa
Sunda karena tanah
Sunda pernah menjadi
wilayah kerajaan Mataram
lslam, yang terlihat
adalah penggunaan beberapa
kosakata jawa, dan tingkatan
berbahasa yaitu normal
dan lemes (sopan) Contoh;
Tempat
|
Bahasa Indonesia
|
Bahasa Sunda
(normal) |
Bahasa Sunda
(sopan/lemes) |
|
di atas ..
|
di luhur ..
|
di luhur ..
|
|
di belakang ..
|
di tukang ..
|
di pengker ..
|
|
di bawah ..
|
di handap ..
|
di handap ..
|
|
di dalam ..
|
di jero ..
|
di lebet ..
|
|
di luar ..
|
di luar ..
|
di luar ..
|
|
di samping ..
|
di sisi ..
|
di gigir ..
|
|
di antara ..
dan .. |
di antara ..
jeung .. |
di antawis ..
sareng .. |
Waktu
|
Bahasa Indonesia
|
Bahasa Sunda
(normal) |
Bahasa Sunda
(sopan/lemes) |
|
sebelum
|
saacan, saencan, saméméh
|
sateuacan
|
|
sesudah
|
sanggeus
|
saparantos
|
|
ketika
|
basa
|
nalika
|
|
Besok
|
Isukan
|
Enjing
|
|
Bahasa Indonesia
|
Bahasa Sunda
(normal) |
Bahasa Sunda
(sopan/lemes) |
|
Dari
|
Tina
|
Tina
|
|
Ada
|
Aya
|
Nyondong
|
|
Tidak
|
Embung
|
Alim
|
|
Saya
|
Urang
|
Abdi/sim kuring/pribados
|
(Sumber tabel; www.wikipedia.org)
Setelah bahasa lndonesia
ditetapkan menjadi bahasa
nasional dan persatuan,
bahasa Sunda dipengaruhi
oleh bahasa melayu sehingga disebut
basa sunda kamalayon. Pada perkembangan
selanjutnya bahasa indonesia
juga ikt mempengaruhi
bahasa Sunda.
Hal
ini memperlihatkan bahwa
perkembangan bahasa dipengaruhi
dan erat kaitannya dengan banyak
hal.
Bahasa Sunda
di era globalisasi
Melihat
keadaan sekarang ini,
dimana penutur bahasa sunda
masih banyak, (menurut
wikipedia.org bahasa sunda
memiliki penutur 27
juta yang merupakan
terbanyak kedua setelah
bahasa Jawa), tampaknya
bahasa Sunda akan
terus bertahan. Orang-orang
Sunda masih menggunakannya sebagai
bahasa komunikasi, mengajarkan
kepada anak.
Dalam
kehidupan sehari-hari di luar
tanah sunda, bahasa sunda tetap
digunakan, misalnya, mahasiswa
yang berasal dari
Jawa Barat, bila
berkomunikasi diantara mereka
menggunakan bahasa Sunda.
Bahasa Sunda juga
banyak digunakan oleh
pedagang borjo yang
berasal dari Jawa
Barat. Kadang-kadang bahasa
Sunda juga digunakan
di televisi.
Seperti bahasa
daerah lain, bahasa
sunda juga mengalami
transformasi atau perubahan
seiring perkembangan zaman
dan era globalisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar