Cerpen
:
DUA RODA CINTA DALAM SATU HATI
Matahari mulai menampakkan senjanya, sore itu aku pulang membawa
kantong plastik yang lumayan berat dan berisikan kertas-kertas serta buku-buku
yang merupakan berkas-berkas penting yang ku bawa pulang dari kampus.
Oh iya..nama ku Ade Rini, aku berkuliah di PGTK ALBANA. Karena
nenek tinggal sendiri di Bogor aku tinggal bersama nenek sejak duduk di bangku
SMP untuk menemaninya sekaligus menjaganya. Meskipun aku tinggal di Bogor
bersama nenek, setiap satu bulan sekali aku pulang menemui kedua orang tua ku di Depok.
Ketika aku pulang kuliah sore itu dengan membawa kantong yang
lumayan merepotkan diriku, tiba-tiba segerombolan orang berkerumun di pinggir
jalan yang tak jauh berada dari Puskesmas. Dengan rasa penasaran dan cemas, perlahan
–lahan aku pun menghampirinya. Sebelum aku menghampiri segeromblan orang
tersebut, tiba-tiba tanpa aku bertanya apa yang telah terjadi tukang ojeg dan
warga sekitar yang kebetulan kenal dengan ku memberi tahu bahwa ada kecelakaan
roda dua.
Kebetulan pada saat peristiwa kecelakan itu puskesmas sudah tutup
karena hanya buka mulai 07.30-12.30 WIB dan warga hanya membawa dia ketempat
yang aman saja agar tidak mengganggu lalu lintas disekitar kejadian kecelakan
tersebut.
Ketika kerumunan orang mulai meninggalkan tempat kejadian itu, untuk
menghilangankan rasa penasaran, aku mencoba menghampirinya walau ada rasa takut
yang terlitas dibenak ku “pasti ada darah segar yang berceceran yang dapat
membuat lemas, muntah atau mual dan juga bisa membuatku pingsan”, tapi rasa takut
itu hilang ketika melihat seorang anak remaja pria sekitar 1 tahun lebih muda dari ku, dia memakai
seragam SMA dan di sekujur kaki dan tangannya penuh darah serta luka.
Tak ada rasa takut saat itu, aku hanya kebingungan dan merasa iba
sekaligus kesal pada anak tersebut. Aku menghampirinya dan bertanya sambil memarahinya
”makanya kalau mengendarai motor itu hati-hati jangan semerono”.
Anak itu merespon pertanyaan ku dengan nada yang lemas sambil menyerinyit
dan merasa kesakitan. “maaf teh soalnya aku harus cepat-cepat pulang makanya
aku mengendarai dengan kecepatan yang tinggi sehingga mengakibatkan kecelakaan
seperti ini, karena jarak rumah ku yang masih jauh”.
“Memang rumah mu dimana?” ujar ku.
“Rumah ku di daerah ciomas teh.” Sambil menunduk.
Memang jarak yang cukup jauh jika dia harus pulang dalam keadaan
seperti itu. Akupun tak tega melihat anak remaja pria tersebut.
”Masih kuat berjalan tidak?” tanya ku sambil berjalan kearah
sebrang.
“Masih kuat kok teh!.” Anak itu menjawab sambil beranjak dari tempat
duduknya
“ayo..ikut!!!” tak banyak bicara dan tak berfikir panjang, aku
mengajak anak remaja pria itu kerumah untuk aku obati.
“Mau kemana teh????” dia bertanya dengan heran
“Tidak perlu banyak
bertanya, ayo ikut kerumah ku, kita bersihkan luka kamu dulu karena jika kamu
pulang dalam keadaan seperti ini tidak mungkin karena jarak rumah kamu masih
jauh dari sini”. Jawab ku
Pria itu pun mengikutinya dari belakang sambil memapah sepedah motornya
dengan luka yang berceceran. Tak lama kemudian kita berdua sampai karena rumah
ku yang tidak begitu jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu.
“Kamu duduk disini dulu saja, dirumahku tak ada siapa-siapa, nenek
sedang tidak ada di rumah.” penjelasan ku sambil cepat-cepat lari ke dalam
rumah untuk mengambil kotak obat dan mengambil air hangat dan sehelai kain
untuk mengkompres luka pria itu.
Tak banyak bicara anak remaja pria itu pun langsung duduk. Dia
melihat dan memperhatikan ku dengan rasa heran karena melihatku membersihakan
lukanya. “makanya kalau mengendarai sepedah motor itu hati-hati jangan bawa
seenak jidat mu saja”.
Pria itu terperongoh melihatku yang tampak kesal dan cemas. “iya
teh” hanya kata singkat yang di lontarkan oleh pria tersebut. Setelah selesai
membersihan lukanya, pria itu pamit pulang karena hari semakin sore dan matahari
mulai tak menampakan cahayanya.
“Teh makasih banyak sudah
repot-repot menolong ku.” Seru dia.
“Iya sama-sama, lain kali lebih hati-hati jika berkendara
dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.” Jawab ku dengan so bijak hahaha...
Tiga bulan kemudian tiba-tiba nenek memanggilku karena ada
seseorang yang mencariku dan ingin bertemu dengan ku. Saat ku menghampiri nenek
diruang tamu ternyata disamping nenek ada seorang pria membawa sekantong
buah-buahan dan ternyata pria itu yang pernah aku tolong saat peristiwa kecelakaan
roda dua itu.
Dengan rasa heran aku terperongoh melihat pria remaja itu yang
berbeda 1 tahun dengan ku.
“Ehhh...kamu sudah sembuh?” aku bertanya sambil menatap heran
padanya.
“Alhamdulillah lumayan teh tinggal luka-luka ringan saja dan
lecet-lecet yang membekas di tangan dan kaki belum sembuh betul.” Dia menjawab
dengan senyum lebar.
Aku mengenalkan pria itu kepada nenek ku yang aku sendiri belum
tahu namanya dan belum pernah berkenalan.
“Nek, kenalin dia......hemmhhh...” aku bingung harus jawab apa aku
sendiri saja tidak tahu apa-apa mengenai dirinya namanya saja aku tak tahu.
Pria itu menyampar pembicaraan ku seperti bensin menghampiri api. “perkenalkan
nek, namaku handi. Aku yang pernah ditolong oleh cucu nenek dalam peristiwa
kecelakaan kendaraan sepedah motor 3 bulan yang lalu, dan ini ada sedikit
rezeki untuk nenek dan cucu nenek karena cucu nenek sudah menolong saya pada
saat kecelakan itu”, pria itu menjawab dengan cekatan sambil menyodorkan
kantong yang dia bawa.
Dengan tangan tangan terbuka nenek pun menerima pemberian ucapan
terimakasih pria itu. “ iya sama-sama nak, tak usah repot-repot” ujar nenek.
Perasaan heran yang kini dalam benak ku, karena tiba-tiba dia datang dan
mengucapkan terimakasih.
Tidak lama kemudian dia pamit pulang. “maaf yah teh saya baru bisa
mengucapkan terimakasih sekarang dan maaf juga saya harus pamit pulang sekang
karena saya harus cepat-cepat pulang.” Seru pria tersebut.
“Iya tidak apa-apa, seharusnya kamu tidak usah repot-repot untuk
mengcapkan terimakasih, iya sudah hati-hati di jalan jangan sampai kecelakaan
itu terulang kembali”. Ujar ku.
Sebulan kemudian pria itu datang lagi sambil membawa keranjang yang
berisikan makanan dan buah-buahan. Aku yang sedang duduk serentak berdiri kaget
melihat pria tersebut.
”Assalamu’alaiukum tehh?..” Sapa dia dengan memberi senyuman manis.
“Wa’alakumsalam.. ehh kamu lagi..silahkan duduk, maaf ya aku tidak
mengizinkan kamu untuk masuk kedalam rumah karena nenek sedang tidak ada di
rumah.” aku menjawab dan merasa heran dengan kedatangan anak remaja pria
tersebut.
“Iya tidak apa-apa kok teh,,saya kesini hanya ingin tahu siapa nama
teteh karena selama ini saya tahu wajah tapi tak mengenal siapa nama teteh? Ujar
anak remaja pria terebut.
Akupun spontan terkejut dengan gugup sambil menjawab “panggil saja
aku ADE.” Pria itu duduk disebelah ku dan tanpa basa-basi dia meminta nomor HP
ku “ maaf teh jika saya sudah lancang, apakah saya boleh minta no Handphone
teteh?”
“ Bo..boleh..ni nomornya” jawab ku dengan gugup dan tersipu malu
sambil memberikan selembar kertas yang bertuliskan nomor telepon.
Tidak lama kemudian dia pamit untuk pulang. Selepas kejadian
kecelakaan roda dua itu, peristiwa tersebut membuat kami memahami sifat dan
sikap satu sama lain serta membuat kami saling jatuh hati. Peristiwa tersebut
menjadi kenangan tersendiri bagi hubungan cinta anatara aku dengan anak remaja pria yang satu tahun lebih muda dari ku, cinta
kami dipersatukan dalam dua roda cinta dalam satu hati.***
SELESAI....