Jumat, 30 September 2016

CERPEN


Cerpen :
DUA RODA CINTA DALAM SATU HATI
Matahari mulai menampakkan senjanya, sore itu aku pulang membawa kantong plastik yang lumayan berat dan berisikan kertas-kertas serta buku-buku yang merupakan berkas-berkas penting yang ku bawa pulang dari kampus.
Oh iya..nama ku Ade Rini, aku berkuliah di PGTK ALBANA. Karena nenek tinggal sendiri di Bogor aku tinggal bersama nenek sejak duduk di bangku SMP untuk menemaninya sekaligus menjaganya. Meskipun aku tinggal di Bogor bersama nenek, setiap satu bulan sekali aku pulang menemui kedua orang tua ku  di Depok.
Ketika aku pulang kuliah sore itu dengan membawa kantong yang lumayan merepotkan diriku, tiba-tiba segerombolan orang berkerumun di pinggir jalan yang tak jauh berada dari Puskesmas. Dengan rasa penasaran dan cemas, perlahan –lahan aku pun menghampirinya. Sebelum aku menghampiri segeromblan orang tersebut, tiba-tiba tanpa aku bertanya apa yang telah terjadi tukang ojeg dan warga sekitar yang kebetulan kenal dengan ku memberi tahu bahwa ada kecelakaan roda dua.
Kebetulan pada saat peristiwa kecelakan itu puskesmas sudah tutup karena hanya buka mulai 07.30-12.30 WIB dan warga hanya membawa dia ketempat yang aman saja agar tidak mengganggu lalu lintas disekitar kejadian kecelakan tersebut.
Ketika kerumunan orang mulai meninggalkan tempat kejadian itu, untuk menghilangankan rasa penasaran, aku mencoba menghampirinya walau ada rasa takut yang terlitas dibenak ku “pasti ada darah segar yang berceceran yang dapat membuat lemas, muntah atau mual dan juga bisa membuatku pingsan”, tapi rasa takut itu hilang ketika melihat seorang anak remaja pria  sekitar 1 tahun lebih muda dari ku, dia memakai seragam SMA dan di sekujur kaki dan tangannya penuh darah serta luka.
Tak ada rasa takut saat itu, aku hanya kebingungan dan merasa iba sekaligus kesal pada anak tersebut. Aku menghampirinya dan bertanya sambil memarahinya ”makanya kalau mengendarai motor itu hati-hati jangan semerono”.
Anak itu merespon pertanyaan ku dengan nada yang lemas sambil menyerinyit dan merasa kesakitan. “maaf teh soalnya aku harus cepat-cepat pulang makanya aku mengendarai dengan kecepatan yang tinggi sehingga mengakibatkan kecelakaan seperti ini, karena jarak rumah ku yang masih jauh”.
“Memang rumah mu dimana?” ujar ku.
“Rumah ku di daerah ciomas teh.” Sambil menunduk.
Memang jarak yang cukup jauh jika dia harus pulang dalam keadaan seperti itu. Akupun tak tega melihat anak remaja pria tersebut.
”Masih kuat berjalan tidak?” tanya ku sambil berjalan kearah sebrang.
“Masih kuat kok teh!.” Anak itu menjawab sambil beranjak dari tempat duduknya
“ayo..ikut!!!” tak banyak bicara dan tak berfikir panjang, aku mengajak anak remaja pria itu kerumah untuk aku obati.
“Mau kemana teh????” dia bertanya dengan heran
 “Tidak perlu banyak bertanya, ayo ikut kerumah ku, kita bersihkan luka kamu dulu karena jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini tidak mungkin karena jarak rumah kamu masih jauh dari sini”. Jawab ku
Pria itu pun mengikutinya dari belakang sambil memapah sepedah motornya dengan luka yang berceceran. Tak lama kemudian kita berdua sampai karena rumah ku yang tidak begitu jauh dari tempat terjadinya peristiwa itu.
“Kamu duduk disini dulu saja, dirumahku tak ada siapa-siapa, nenek sedang tidak ada di rumah.” penjelasan ku sambil cepat-cepat lari ke dalam rumah untuk mengambil kotak obat dan mengambil air hangat dan sehelai kain untuk mengkompres luka pria itu.
Tak banyak bicara anak remaja pria itu pun langsung duduk. Dia melihat dan memperhatikan ku dengan rasa heran karena melihatku membersihakan lukanya. “makanya kalau mengendarai sepedah motor itu hati-hati jangan bawa seenak jidat mu saja”.
Pria itu terperongoh melihatku yang tampak kesal dan cemas. “iya teh” hanya kata singkat yang di lontarkan oleh pria tersebut. Setelah selesai membersihan lukanya, pria itu pamit pulang karena hari semakin sore dan matahari mulai tak menampakan cahayanya.
 “Teh makasih banyak sudah repot-repot menolong ku.” Seru dia.
“Iya sama-sama, lain kali lebih hati-hati jika berkendara dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.” Jawab ku dengan so bijak hahaha...
Tiga bulan kemudian tiba-tiba nenek memanggilku karena ada seseorang yang mencariku dan ingin bertemu dengan ku. Saat ku menghampiri nenek diruang tamu ternyata disamping nenek ada seorang pria membawa sekantong buah-buahan dan ternyata pria itu yang pernah aku tolong saat peristiwa kecelakaan roda dua itu.
Dengan rasa heran aku terperongoh melihat pria remaja itu yang berbeda 1 tahun dengan ku.
“Ehhh...kamu sudah sembuh?” aku bertanya sambil menatap heran padanya.
“Alhamdulillah lumayan teh tinggal luka-luka ringan saja dan lecet-lecet yang membekas di tangan dan kaki belum sembuh betul.” Dia menjawab dengan senyum lebar.
Aku mengenalkan pria itu kepada nenek ku yang aku sendiri belum tahu namanya dan belum pernah berkenalan.
“Nek, kenalin dia......hemmhhh...” aku bingung harus jawab apa aku sendiri saja tidak tahu apa-apa mengenai dirinya namanya saja aku tak tahu.
Pria itu menyampar pembicaraan ku seperti bensin menghampiri api. “perkenalkan nek, namaku handi. Aku yang pernah ditolong oleh cucu nenek dalam peristiwa kecelakaan kendaraan sepedah motor 3 bulan yang lalu, dan ini ada sedikit rezeki untuk nenek dan cucu nenek karena cucu nenek sudah menolong saya pada saat kecelakan itu”, pria itu menjawab dengan cekatan sambil menyodorkan kantong yang dia bawa.
Dengan tangan tangan terbuka nenek pun menerima pemberian ucapan terimakasih pria itu. “ iya sama-sama nak, tak usah repot-repot” ujar nenek. Perasaan heran yang kini dalam benak ku, karena tiba-tiba dia datang dan mengucapkan terimakasih.
Tidak lama kemudian dia pamit pulang. “maaf yah teh saya baru bisa mengucapkan terimakasih sekarang dan maaf juga saya harus pamit pulang sekang karena saya harus cepat-cepat pulang.” Seru pria tersebut.
“Iya tidak apa-apa, seharusnya kamu tidak usah repot-repot untuk mengcapkan terimakasih, iya sudah hati-hati di jalan jangan sampai kecelakaan itu terulang kembali”. Ujar ku.
Sebulan kemudian pria itu datang lagi sambil membawa keranjang yang berisikan makanan dan buah-buahan. Aku yang sedang duduk serentak berdiri kaget melihat pria tersebut.
”Assalamu’alaiukum tehh?..” Sapa dia dengan memberi senyuman manis.
“Wa’alakumsalam.. ehh kamu lagi..silahkan duduk, maaf ya aku tidak mengizinkan kamu untuk masuk kedalam rumah karena nenek sedang tidak ada di rumah.” aku menjawab dan merasa heran dengan kedatangan anak remaja pria tersebut.
“Iya tidak apa-apa kok teh,,saya kesini hanya ingin tahu siapa nama teteh karena selama ini saya tahu wajah tapi tak mengenal siapa nama teteh? Ujar anak remaja pria terebut.
Akupun spontan terkejut dengan gugup sambil menjawab “panggil saja aku ADE.” Pria itu duduk disebelah ku dan tanpa basa-basi dia meminta nomor HP ku “ maaf teh jika saya sudah lancang, apakah saya boleh minta no Handphone teteh?”
“ Bo..boleh..ni nomornya” jawab ku dengan gugup dan tersipu malu sambil memberikan selembar kertas yang bertuliskan nomor telepon.
Tidak lama kemudian dia pamit untuk pulang. Selepas kejadian kecelakaan roda dua itu, peristiwa tersebut membuat kami memahami sifat dan sikap satu sama lain serta membuat kami saling jatuh hati. Peristiwa tersebut menjadi kenangan tersendiri bagi hubungan cinta anatara aku dengan anak remaja  pria yang satu tahun lebih muda dari ku, cinta kami dipersatukan dalam dua roda cinta dalam satu hati.***
SELESAI....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar